Gunadarma University

Gunadarma University

Jumat, 17 Mei 2013

Manusia Dan Harapan


Manusia Dan Harapan

            Harapan merupakan sesuatu yang diinginkan atau didambakan seseorang namun sifatnya tidak terlalu berlebihan. Harapan berorientasi adanya perkembangan menuju strata yang lebih baik dalam suatu hal. Setiap manusia pasti memiliki harapan, baik untuk dirinya sendiri, orang lain, ataupun suatu obyek lain. Orang yang tidak mempunyai harapan berarti orang tersebut adalah orang yang putus asa, tidak mau berusaha dan cendrung pemalas. Karena seperti halnya cita cita, harapan pun harus disertai usaha dan do’a. Dari contoh yang paling sederhana saja misalnya harapan seorang anak agar bisa menjadi sesuai apa yang diinginkan orang tuanya. Disini berarti ada dua “harapan” yang dinginkan, yaitu harapan anak dan harapan orang tua yang saling berkorelasi. Harapan anak tersebut terkait erat dengan harapan orang tua.
            Ketika seorang anak mempunyai harapan akan menjadi seperti yang orang tuanya harapkan, berarti anak tersebut akan bertindak sesuai apa yang orang tuanya inginkan sehingga harapan dirinya dan orang tuanya terwujudkan. Disini memungkinkan orang tua dan anak akan saling bekerja sama. Orang tua akan selalu berusaha membimbing, mengarahkan, mendorong dan senantiasa berdoa agar anaknya sesuai dengan harapan mereka, dan si anak pun senantiasa selalu mendengarkan apa petuah petuah orang tuanya dan berusaha agar harapan orang tuanya bisa terwujud, disertai dengan do’a juga tentunya. Jika harapan orang tua telah terwujud berarti harapan anak tersebut pun terwujud, karena dari awal si anak berharap bisa menjadi seseorang yang diharapkan orang tuanya, atau bisa dikatakan harapan anak dan orang tuanya sama.
            Menurut saya, harapan merupakan sesuatu yang sifatnya mendasar. Dengan adanya harapan berarti seorang manusia senantiasa berfikir maju dan berorientasi masa depan. Harapan bisa dibilang hal hal penunjang terwujudnya cita cita, jika semua harapan sudah terpenuhi, insyalloh semakin dekat pula terwujudnya cita cita seseorang. Seperti yang telah disampaikan diatas, harapan dapat terwujud jika kita selalu berusaha dan berdo’a secara optimal dan tidak mudah putus asa. Manusia yang tidak mempunyai harapan tidak akan dianggap atau dipandang orang lain di tengah tengah masyarakat, oleh karena itu sesulit apa pun kondisi dan situasi seseorang, hendaknya tetap punya harapan, tidak boleh langsung pasrah begitu saja. 

Jumat, 10 Mei 2013

Manusia Dan Kegelisahan


Manusia Dan Kegelisahan

            Kegelisahan merupakan suatu kondisi dimana seseorang merasa tidak tentram hatinya, tidak tenang pikirannya, perasaan cemas dan khawatir yang berkecamuk, biasanya disertai dengan jantung yang berdebar debar. Seseorang yang sedang gelisah biasanya ditunjukan dengan ekspresi wajah atau gerak geriknya. Ada terlihat murung, berjalan mondar mandir, atau ada pula yang melamun. Kegelisahan merupakan hal yang wajar dialami seseorang. Itu muncul ketika seseorang memikirkan tentang sesuatu hal, baik hal yang dihadapi dirinya maupun hal yang dihadapi orang lain. Pada titik kegelisahan yang tinggi, ini dapat menyebabkan seseorang depresi. Terlebih ketika hal yang digelisahkan merupakan hal yang sangat intim baginya. Seperti contohnya dalam lingkup keluarga, kelangsungan hidup, dan lain lain. Contohnya kegelisahan seorang ayah ketika anaknya masuk rumah sakit. Segala sesuatunya pasti dipikirkan oleh sang ayah tersebut. Bukan hanya memikirkan biaya berobatnya tapi juga kesembuhannya.
            Kegelisahan memang kerap muncul dalam kehidupan sehari hari, baik menghadapi sesuatu yang sebenarnya sudah dipersiapkan matang sebelumnya apalagi pada hal yang benar benar tidak diduga sama sekali. Seperti contoh diatas yaitu seorang ayah yang anaknya sedang sakit. Sakit merupakan salah satu hal yang datangnya tidak di duga. Ayah tersebut pasti spontan merasa gelisah, cemas, dan khawatir. Terlebih ketika misalnya ayah tersebut sedang tidak memiliki biaya untuk membawa ke rumah sakit. Pastilah muncul segala bayangan kemungkinan kemungkinan yang tidak diinginkan. Merasa kebingungan pula bagaimana mendapatkan pinjaman biaya untuk berobat anaknya. Setelah mendapat biaya pun, ayah tersebut pasti tetap masih gelisah memikirkan bagaimana kah penyakit anaknya, dan bagaimana kesembuhannya.
            Menurut saya, kegelisahan itu hal yang lumrah. Hal yang paling penting dipahami adalah bagaimana menanggapi kegelisahan terhadap sesuatu yang tengah terjadi pada seseorang tersebut. Hati memang tidak dapat dibohongi ketika sedang gelisah, tetapi yang terpenting adalah hati itu harus tetap tenang. Sebisa mungkin kita tidak tegang dalam menghadapinya. Pikiran tegang yang berlebihan bisa bisa malah membuat menjadi depresi. Kita hrus tetap rileks agar pikiran kita tetap jernih dan tidak berprasangka yang tidak tidak. Semuanya pasti ada jalan keluar, baik atau buruk yang kita temui nanti, harus sudah kita persiapkan untuk menerimanya. Jangan terlalu larut menghadapi sesuatu, yang penting kita tetap harus focus. Prioritaskan apa yang benar benar memang perlu diprioritaskan, kesampingkan hal yang lain dulu. 

Jumat, 03 Mei 2013

Manusia Dan Tanggung Jawab


Manusia Dan Tanggung Jawab

            Tanggung jawab pada dasarnya adalah sikap dimana seseorang siap menerima segala konsekwensi, akibat ataupun feedback atas apa yang telah dilakukan atau diperbuat sebelumnya, baik itu atas tindakannya ataupun atas ucapannya. Tanggung jawab dapat sebagai pencerminan kedewasaan dan keseiusan seseorang. Tanggung jawab juga merupakan suatu bentuk komitmen, dengan penuh kesadaran seseorang melakukan sesuatu atas keterikatan, perjanjian dan perannya. Contohnya sesorang ayah dalam keluarga. Ayah merupakan kepala keluarga yang mempunyai tanggung jawab penuh dalam menjaga, memenuhi kebutuhan, dan pencurahan kasih sayangnya di samping sang ibu. Disini tanggung jawab ayah merupakan kewajiban sang ayah. Maka tidak salah pula bila ada yang mengkorelasikan antara tanggung jawab dan kewajiban.
            Ayah yang bertanggung jawab pasti sebisa mungkin melakukan tindakan sesuai dengan perannya. Tidak lain semuanya dilakukan untuk menciptakan kesejahteraan keluarga. Bukan saja memenuhi kebutuhan secara materi, ayah juga harus bisa memenuhi kebutuhan imateril, seperti kasih sayang, kepedulian dan keadilan. Disamping itu seorang anak pun harus memiliki rasa tanggung jawab dimana perannya sebagai anggota keluarga. Seorang anak harus bisa menjalankan kewajibannya, yaitu mematuhi dan mendengarkan perintah dan kata kata orang tua, dan berkewajiban pula belajar yang mana ketika si anak katakanlah masih sebagai pelajar. Dan ketika anak tersebut tidak mematuhi atau menjalankan apa kewajibannya tersebut, maka si anak akan mendapat konsekwensi dari apa yang dilakukannya. Jika anak tersebut memang benar benar sudah bisa bertanggung jawab, maka pasti dengan segala kesadarnnya anak tersebut akan mengakui kesalahannya dan menerima segala akibat dari ketidakpatuhannya itu.
            Menurut saya, tanggung jawab itu merupakan sesuatau yang mendasar dalam terciptanya suatu kehidupan yang harmonis, rukun dan sejahtera dalam berbagai aspek kehidupan. Jika semua elemen masyarakat sudah memiliki rasa tanggung jawab yang penuh akan kewajiban, peran dan amanat yang telah diberikan, pastilah akan timbul ketertiban dalam ruang lingkupnya masing masing. Terlebih dalam kehidupan bermasyarakat yang luas seperti halnya antara pemerintah dan masyarakat. Dewasa ini jika terjadi sesuatu seperti banjir lah, kebakaran lah, kemacetan lah, masyarakat selalu menyalahkan pemerintah. Harusnya mereka dapat intropeksi diri lah, renungi apa yang telah diperbuat, toh itu semua kebanyakan adalah hasil apa yang telah masyarakat perbuat. Seperti banjir akibat membunag sampah sembarangan, kemacetan akibat gengsi dan ingin menunjukan kelas sosialnya dengan membawa kendaran pribadi, dan lain lain. Semoga ke depannya masyarakat negeri yang tercinta ini lebih dapat bertanggung jawab, dan lebih berorientasi jangka panjang, toh semuanya itu untuk menciptakan kehidupan yang jauh lebih baik.