Nama: Bambang Triguna
NPM: 11112364
Kelas: 2KA09
KEPEMIMPINAN
A.
Teori
dan Arti Pentingnya Kepemimpinan
Kepemimpinan
adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya
dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Caraalamiah mempelajari kepemimpinan
adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan
pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang
ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.
Teori
teori dalam kepemimpinan:
Konsep Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan,
pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari
seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan
tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Pengertian gaya
kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh
Davis dan Newstrom (1995). Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin
secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut
dikenal sebagai gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin,
pada dasarnya dapat diterangkan melalui tiga aliran teori berikut ini. Ditinjau
dari sejarah perkembangannya dapat dikemukakan disini adanya tiga teori
kepemimpinan:
1.
Teori
Sifat
Teori ini bertolak
dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh
sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar
pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang
berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan
pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai
atau ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Ghizeli dan Stogdil:
·
Kecerdasan
·
Kemampuan
mengawasi
·
Inisiatif
·
Ketenangan
diri
·
Kepribadian
Walaupun teori sifat
memiliki berbagai kelemahan (antara lain: terlalu bersifat deskriptif, tidak
selalu ada relevansi antara sifat dianggap unggul dengan efektivitas
kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun apabila kita
renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya mengenai
berbagaio rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin, justru sangat diperlukan
oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
Keith Devis
merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan
organisasi, antara lain :
·
Kecerdasan
Berdasarkan hasil
penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan
rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih
tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang
lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.
·
Kedewasaan
dan Keluasan Hubungan Sosial
Umumnya di dalam
melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang
pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat
pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang
diyakini kebenarannya.
·
Motivasi
Diri dan Dorongan Berprestasi
Seorang pemimpin yang
berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk
berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang
optimal, efektif dan efisien.
·
Sikap
Hubungan Kemanusiaan
Adanya pengakuan
terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak
kepadanya.
Kajian
kepemimpinan pada mulanya didasarkan pada asumsi bahwa pemimpin dilahirkan,
tidak dibuat. Peneliti kemudian mengidentifikasi serangkaian pembawaan pemimpin
yang membedakan dengan pengikutnya, serta pemimpin efektif dengan pemimpin
tidak efektif. Teori pembawaan kepemimpinan mencoba menjelaskan karakteristik
khusus kepemimpinan yang efektif. Peneliti menganalisis pembawaan fisik dan
psikologis serta kualitas, seperti level kemampuan yang tinggi, keagresifan,
kepercayaan pada diri sendiri, daya persuasif yang dimiliki dan kekuasaannya
dalam mengidentifikasi serangkaian pembawaan yang dimiliki oleh pemimpin yang
sukses. Dalam berbagai sumber dinyatakan bahwa, keberhasilan seorang pemimpin
ditentukan oleh sifat dan perangai pemimpin tersebut. Sifat-sifat tersebut
dapat berupa sifat fisik, sosial dan psikologis (Introducing Leadership
Studies, 2001: 18; Leadership, 2001: 1; Sadler, 2001: 11).
Atas
dasar pemikiran di atas ada anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang
berhasil sangat ditentukan kemampuan pribadi pemimpin. Karena itu, timbul usaha
dari para ahli untuk meneliti dan merinci kualitas seorang pemimpin yang
berhasil melaksanakan tugas kepemimpinannya, kemudian hasilnya diformulasikan
ke dalam sifat-sifat umum seorang pemimpin. Usaha tersebut berkembang menjadi
teori kepemimpinan yang disebut “teori sifat kepemimpinan” (Robbins, at.al.,
1994: 469).
2.
Teori
Perilaku
Dasar
pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu
ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok kearah pencapaian tujuan.
Dalam hal ini, pimpinan mempunyai deskripsi perilaku:
·
Konsiderasi
dan struktur inisiasi
Perilaku seorang
pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki cirri ramah tamah, mau
berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan
kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya. Disamping itu
terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih meningkatkan tugas
organisasi.
·
Berorientasi
kepada bawahan dan produksi
Perilaku pemimpin
yang berorientasi kepada baawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan
atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan
serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan
perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan
penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan
penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
Pada
sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continum pada dasasrnya
ada dua yaitu berorientasi pada pemimpin dan bawahan. Sedangkan berdasarkan
model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur melalui dua
dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap bawahan atau
hubungan kerja. Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat
dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF. Soner, 1978:
442-443).
Tingkah
laku pemimpin lebih terkait dengan proses kepemimpinan. Karena itu, ada dua
dimensi utama kepemimpinan yang dikenal dengan nama konsiderasi dan struktur
inisiasi. Dua macam kecenderungan perilaku kepemimpinan tersebut pada
hakekatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan.
Sedangkan
perilaku pemimpin yang efektif melakukan inisiasi struktur adalah:
·
Inisiasi
struktur yang memperjelas peran tambahan akan meningkatkan kepuasan.
·
Inisiasi
struktur akan menyurutkan kepuasan pengikut ketika struktur tersebut sudah
tersedia.
·
Inisiasi
struktur akan meningkatkan kinerja ketika tugas tidak jelas.
·
Inisiasi
struktur tidak akan mempengaruhi kinerja ketika tugas jelas (Leadership, 2001:
2).
Uraian
di atas memperjelas bahwa teori kepemimpinan perilaku mencoba menjelaskan
keunikan gaya yang digunakan oleh pemimpin yang efektif, atau memahami
sifat-sifat pekerjaan pemimpin. Sepuluh peran manajerial dari Henry Minzberg
merupakan salah satu contoh teori kepemimpinan perilaku. Peneliti perilaku
menekankan pada penemuan cara mengklasifikasikan perilaku yang dapat memberikan
pemahanan mengenai kepemimpinan.
3.
Teori
Situasional
Keberhasilan
seorang pimpinan menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan
dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan factor waktu
dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan
tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah:
·
Jenis
pekerjaan dan kompleksitas tugas
·
Bentuk
dan sifat teknologi yang digunakan
·
Persepsi,
sikap dan gaya kepemimpinan
·
Norma
yang dianut kelompok
·
Rentang
kendali
·
Ancaman
dari luar organisasi
·
Tingkat
stress
·
Iklim
yang terdapat dalam organisasi
Efektivitas
kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca” situasi yang
dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinan agar cocok dengan dan mampu
memenuhi tuntunan situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan dimaksud
adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu karena
tuntunan situasi tertentu.
Sehubungan
dengan hal tersebut berkembanglah model-model kepemimpinan berikut:
·
Model
Kontinum Otkratik-demokratik
Gaya dan perilaku kepemimpinan
tertentu selain berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, juga
berkaitan dengan fungsi kepemimpinan tertentu yang harus diselenggarakan.
Contoh: dalam hal pengambilan keputusan, pemimpin bergaya otokratik akan
mengambil keputusan sendiri, ciri kepemimpinan yang menonjol ketegasan disertai
perilaku yang berorientasi pada penyelesaian tugas. Sedangkan pemimpin bargaya
demokratik dan mengajak bawahannya untuk berpartisipasi. Ciri kepemimpinan yang
menonjol disini adalah menjadi pendengar yang baik disertai perilaku memberikan
perhatian pada kepentingan dan kebutuhan bawahan.
·
Model
“Interaksi Atasan-Bawahan”
Menurut model ini,
efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada interaksi yang terjadi
antara pemimpin dan bawahannya dan sejauhmana interaksi tersebut mempengaruhi
perilaku pemimpin yang bersangkutan.
Seorang akan menjadi pemimpin
yang efektif, apabila:
- Hubungan atasan dan abwahan dikategorikan
baik.
- Tugas yang harus dikerjakan bawahan
disusun pada tingkat struktur yang tinggi.
- Posisi kewenangan pemimpin tergolong kuat.
·
Model
Situasional
Model ini menekankan
bahwa efektifitas kepemimpinan seseorang tergantung pada pemilihan gaya
kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat
kematangan jiwa bawahan. Dimensi kemimpinan yang digunakan dalam model ini
adalah perilaku pemimpin yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan
hubungan atasan-bawahan. Berdasarkan dimensi tersebut, gaya kepemimpinan yang
dapat digunakan adalah:
- Memberitahukan
- Menjual
- Mengajak
- Melakukan pendelegasian
·
Model
“Jalan-Tujuan”
Seorang pemimpin yang
efektif menurut model ini adalah pemimpin yang mampu menunjukkan jalan yang
dapat ditempuh bawahan. Salah satu mekanisme untuk mewujudkan hal tersebut
yaitu kejelasan tugas yang harus dilakukan dan perhatian pemimpin kepada
kepentingan dan kebutuhan bawahan. Perilaku pimpinan berkaitan dengan hal
tersebut harus merupakan factor motivasional bagi bawahannya.
Perhatian utama model
ini adalah perilaku pimpinan dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan.
Perilaku pemimpin perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang harus
diselesaikan oleh bawahannya.
B.
Tipologi
Kepemimpinan
Dalam
praktiknya, dari berbagai gaya kepemimpinan berkembang beberapa tipe kepemimpinan;
di antaranya adalah sebagai berikut (Siagian,1997).
1.
Tipe
Otokratis.
Seorang pemimpin yang
otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut:
Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi, Mengidentikkan tujuan pribadi
dengan tujuan organisasi, Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak
mau menerima kritik, saran dan pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan
formalnya, Dalam tindakan pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang
mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
2.
Tipe
Militeristis
Perlu diperhatikan
terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme
berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang
bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut :
Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan, Dalam
menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, Senang
pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku
dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari
upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
3.
Tipe
Paternalistis.
Seorang pemimpin yang
tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri
sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa,
bersikap terlalu melindungi (overly protective), jarang memberikan kesempatan
kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan
kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan
kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering
bersikap maha tahu.
4.
Tipe
Karismatik.
Hingga sekarang ini
para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin
memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya
tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang
jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat
menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya
pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik,
maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan
kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak
dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang
kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy
adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada
waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak
dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.
5.
Tipe
Demokratis.
Pengetahuan tentang
kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang
paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan
ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan
selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang
termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan
organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya, senang
menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya, selalu berusaha
mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan, ikhlas
memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat
kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat
kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain,
selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya, dan
berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Secara
implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal
yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal,
alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang
demokratis.
C.
Faktor
– Faktor yang Mempengaruhi Kepemimpinan
Ada
banyak hal yang mempengaruhi kepemimpinan itu sendirinya, terlebih fakta organisasi
satu dengan lainnya sangat beragam sehingga ada banyak hal yang mempengaruhi
kepemimpinan. Pada tahap inilah bukan hanya konsep kepemimpinan yang mempunyai
pengaruh besar tetapi juga keterampilan spontan dan teknis pemimpin itu sendiri
yang banyak menentukan keberhasilan sebuah kepemimpinan mengingat fakta
organisasi tersebut beragam.
1.
Faktor
Kemampuan Personal
Pengertian
kemampuan adalah kombinasi antara potensi sejak pemimpin dilahirkan ke dunia
sebagai manusia dan faktor pendidikan yang ia dapatkan. Jika seseorang lahir
terberi dengan kemampuan dasar kepemimpinan, ia akan lebih hebat jika
mendapatkan perlakuan edukatif dari lingkungan, jika tidak, ia hanya akan
menjadi pemimpin yang biasa dan standar. Sebaliknya jika manusia lahir tidak
terberi dengan potensi kepemimpinan namun mendapatkan perlakuan edukatif dari
lingkunganya akan menjadi pemimpin dengan kemampuan yang standar pula. Dengan
demikian antara potensi bawaan dan perlakuan edukatif lingkungan adalah dua hal
tidak terpisahkan yang sangat menentukan hebatnya seorang pemimpin.
Dalam kepemimpinan,
faktor pribadi yang berupa berbagai kompetensi yang dimiliki sangat
mempengaruhi proses kepemimpinannya. Dalam hal ini, konsepsi kepemimpinan
umumnya memusatkan perhatian kepada pribadi pemimpin dengan berbagai
kualitas/kemampuan yang dimilikinya. Beberapa abad yang lalu, seorang dikatakan
memiliki kualitas pribadi ketika ia dilahirkan dalam kalangan raja atau
bangsawan. Maka muncullah teori “orang besar” yang pada saat sekarang ini sudah
tidak relevan lagi. Seorang pemimpin di era modern didasarkan pada beberapa
kelebihan yang tidak dimiliki orang lain dalam kelompoknya, seperti kecerdasan,
tingkat pendidikan, bertanggung jawab, aktivitas dan partisipasi sosial serta
status ekonomi dan sosial.
Hal tersebut nampak
jelas pada lembaga/organisasi formal yang telah menerapkan standar atau aturan
yang baku tentang syarat-syarat menjadi seorang pemimpin. Dalam Islam, potensi
setiap individu ini dikenal istilah fitroh, yaitu ciptaan, sifat tertentu yang
mana setiap yang maujud disifati dengannya pada masa awal penciptaanya, sifat
pembawaan manusia yang ada sejak manusia dilahirkan. Beberapa fitroh yang
dimiliki oleh manusia antara lain: fitrah bermoral, fitrah kemerdekaan, fitrah
kebenaran, fitrah individu, fitrah sosial, fitrah politik, fitrah seni dan
fitrah-fitrah lainnya. Berbagai fitrah tersebut harus dikembangkan sehingga
terwujud dalam perilaku-perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari.
Faktor personal ini
juga dalam pengertian bahwa para pemimpin mempunyai kemampuan menginternalisasi
visi dan misi organisasi kedalam pribadi mereka. Pemimpin tidak hanya pandai
untuk mengajak anggota organisasi untuk menjadi bagian dari visi dan misi
dengan meninternalisasi visi dan misi tersebut tetapi ia juga harus menjadi model
yang berhasil menginternalisasi visi dan misi organisasi kedalam pribadinya
sendiri.
2.
Faktor
Jabatan
Pengertian
jabatan adalah struktur kekuasaan yang pemimpin duduki. Jabatan tidak dapat
dihindari terlebih dalam kehidupan moder saat ini, semuanya seakan
terstrukturifikasi. Dua orang mempunyai kemampuan kepemimpinan yang sama tetapi
satu mempunyai jabatan dan yang lain tidak maka akan kalah pengaruh. sama-sama
mempunyai jabatan tetapi tingkatannya tidak sama maka akan mempunya pengarauh
yang berbeda.
Seorang pemimpin
dalam berperilaku harus selalu mengindahkan dalam posisi mana ia berada.
Seorang perwira tinggi tentunya dalam memberikan perintah sangat berbeda
gayanya dengan seorang rektor. Hal ini terkait dengan aturan dan norma yang
diberlakukan di masing-masing organisasi. Satu hal yang perlu dipahami banwa
seorang pemimpin tidak pernah bekerja dalam ruang vakum, tetapi dia selalu ada
dalam lingkungan sosial yang dinamis. Dalam hal ini, seorang pemimpin harus
memiliki citra tentang perilaku kepemimpinan yang digunakan sehingga sesuai
dengan situasi yang menyertainya. Oleh karena itu, dia harus memahami konsep
peranan (role consept). Selain itu, seorang pemimpin harus tanggap terhadap
situasi eksternal. Dalam hal ini berupa tuntutan perilaku yang berasal dari
orang lain. Peristiwa ini disebut dengan “harapan peranan” (role ekspektation).
3.
Faktor
Situasi dan Kondisi
Pengertian
situasi adalah kondisi yang melingkupi perilaku kepemimpinan. Disaat situasi
tidak menentu dan kacau akan lebih efektif jika hadir seorang pemimpin yang
karismatik. Jika kebutuhan organisasi adalah sulit untuk maju karena anggota
organisasi yang tidak berkepribadian progresif maka perlu pemimpin
transformasional. Jika identitas yang akan dicitrakan oragnisasi adalah
religiutas maka kehadiran pemimpin yang mempunyai kemampuan kepemimpinan
spritual adalah hal yang sangat signifikan. Begitulah situasi berbicara, ia
juga memilah dan memilih kemampuan para pemimpin, apakah ia hadir disaat yang
tepat atau tidak.
Situasi khusus selalu
membutuhkan tipe kepemimpinan yang khusus pula. Seorang pemimpin dalam hal ini
harus memiliki fleksibilitas yang tinggi terhadap situasi dan kondisi yang
menyertai para bawahannya. Bila tidak, maka yang akan muncul bukan komitmen
(kepatuhan) tetapi resistensi (perlawanan) dari para bawahan yang pada akhirnya
berakibat pada tidak efektifnya suatu kepemimpinan. Pemahaman terhadap situasi
dan kondisi ini sangat penting bagi seorang pemimpin sehingga gaya
kepemimpinannya tidak selalu monoton. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus
memahami dengan baik tipe Kepemimpinan Situasional atau dalam bahasanya Fidler
disebut dengan gaya Kepemimpinan Kontingensi. Dalam dunia pendidikan yang
menjunjung tinggi profesionalitas, maka dalam rangka menciptakan kepemimpinan
yang efektif, ketiga hal tersebut harus mendapat perhatian serius. Pemimpin
yang dipilih harus orang yang memang pilihan situasi yang melingkupi dan amanah
terhadap perwujudan situasi oragnisasi yang lebih baik.
Diskripsi
diatas memberikan pengertian bahwa dalam melahirkan atau memilih seorang
pemimpin tiga hal tersebut haruslah diperhatikan. Disaat potensi internal
pemimpin bertemu secara klop dengan potensi ekternal maka akan muncul dampak
kepemimpinan yang luarbiasa. Jika tidak demikian maka efektifitas kepemimpinan
akan sulit diwujudkan.
*sources
http://nashchanarsyad.blogspot.com/2013/06/teori-dan-arti-penting-kepemimpinan.html
https://www.academia.edu/4802030/Teori_dasar_Kepemimpinan
http://blog.sivitas.lipi.go.id/blog.cgi?isiblog&1253275195&&&1036006290&&1351745423&ayur001
http://www.majalahpendidikan.com/2011/03/hal-hal-yang-mempengaruhi-kepemimpinan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar